Sukses

Lifestyle

Yuk Simak Lebih Lanjut Tentang Desa Muslim di Pulau Bali!

Bali merupakan pulau di mana mayoritas penduduknya beragama Hindu. Apalagi banyaknya pura di Indonesia, tempat menunaikkan ibadah umat Hindu, yang terkonsentrasi di pulau Bali. Namun, meskipun pulau Bali terkenal sebagai pulau dengan mayoritas masyarakatnya adalah penganut agama Hindu, ternyata pada beberapa tempat dijumpai beberapa desa dengan penduduk setempat memeluk agama Muslim sehingga dikenal dengan julukan desa Muslim di Bali. Yuk Ladies, simak lebih lanjut tentang desa Muslim ini!

Tentang eksistensi penduduk Muslim di Bangli

Di kabupaten Bangli, terdapat komunitas Muslim Bangli yang mulai berkembang sejak tahun 1970. Namun, sejarah mencatat bahwa sebenarnya eksistensi Muslim di Bangli sudah ada sebelum era kemerdekaan di mana terdapat sebuah cerita kuno tentang seorang Muslim bernama Tengku Hasan berasal dari Aceh yang datang ke Bangli karena melarikan diri dari kejaran tentara Belanda dan bersembunyi di Bali.

Perkembangan selanjutnya menceritakan bahwa orang ini sangat dihormati oleh orang Bali yang juga anti kolonial dan akhirnya Tengku Hasan kawin dengan orang Bali. Mereka dikaruniai seorang anak lelaki bernama Tengku Zaenudin alias Putu Badung. Sejak saat itu keluarga Bapak Putu Badung adalah dipercaya sebagai keluarga muslim yang pertama kali tinggal di kota Bangli, sedangkan secara umum, kabupaten Bangli mencatat sejarah kedatangan Muslim yang usianya jauh lebih tua dari eksistensi keluarga besar Tengku Hasan.

Untuk memperkuat keberadaan atau eksistensi dari komunitas kecil umat Muslim di Bali, dibangun pura Langgar yang terletak di desa Bunutin, kecamatan Bangli, kabupaten Bangli. Tempat persembahyangan umat Hindu ini dikenal pula dengan nama Pura Dalem Jawa. Pura Langgar menjadi bukti otentik dari kedatangan ajaran Islam ke pulau Bali. Langgar adalah istilah khas dari Jawa Timur untuk menyebut masjid kecil alias musholla yang merupakan tempat ibadah buat orang Islam. Sedangkan pura adalah tempat ibadah orang Hindu. Sehingga dari dua kombinasi tersebut, pura Langgar merupakan refleksi nama dari dua tempat peribadatan bagi dua komunitas agama yang berlainan di Bali yaitu Hindu dan Islam. Untuk menuju pura Langgar ini Anda memerlukan waktu sekitar 15 menit dengan menggunakan mobil atau kendaraan bermotor dari kota Bangli ke arah selatan. Lokasi dari pura Langgar terletak di sisi timur jalan raya, lalu memasuki sebuah gang sekitar 100 meter.

Pelaksanaan pemujaan di pura Langgar berbeda dengan pemujaan di pura lain pada umumnya, yaitu terletak pada hewan yang dipakai untuk sesajen serta tidak menggunakan daging babi melainkan dengan memilih daging ayam atau itik. Di pura ini juga terdapat pemotongan hewan kurban layaknya seperti Hari Raya Idul Adha yang dilakukan para umat Islam namun berbeda pelaksanaannya yaitu dilakukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau sekitar bulan Februari.

Sebagai tempat ibadah umat Hindu dan umat Islam

Pura Langgar menjadi salah satu tempat pemujaan bagi umat Hindu dan umat Islam yang kebetulan datang ke sini untuk berziarah sambil menikmati keindahan dan keunikan secara langsung pura ini.

Menurut cerita kuno yang beredar di masyarakat Bangli, pura Langgar berdiri karena erat hubungannya dengan sejarah antara kerajaan Bunutin dengan kerajaan Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur di mana Raja Bunutin, Ida I Dewa Mas Blambangan. merupakan keturunan dari Raja Blambangan yang jatuh sakit setelah dinobatkan sebagai raja. Penyakit sang raja berlarut - larut bahkan hingga lima tahun, berbagai upaya pengobatan telah diusahakan. Merasa iba, penduduk setempat dan keluarga kerajaan berinisiatif melakukan yoga dan mendapat wahyu yang intinya adalah mereka harus membangun sebuah pura baru berbentuk langgar sebagai sarana permohonan obat untuk sang raja. Jika kelak sang raja sehat, hidupnya akan sejahtera, bahagia tanpa kekurangan apa pun. Tetapi jika bisikan ini ditolak, kelak tidak akan selamat.

Singkat cerita, terjadi kesembuhan terhadap sang raja. Raja yang sakit berhasil disembuhkan oleh seorang ulama Islam. Selanjutnya, ulama ini diangkat menjadi tabib kerajaan yang bertugas memberi pelayanan pengobatan untuk masyarakat setempat dan memelihara bangunan langgar sebagai tempat ibadah keluarga raja dan para pengikutnya. Langgar hingga saat ini tetap dihormati oleh masyarakat desa Bunutin, meskipun hampir sebagian bangunan langgar sudah rusak karena waktu, namun jejak sejarah masih tercium utuh. Terdapat batu tempat sujud yang hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat Muslim di Bangli.

Dari keberadaan pura Langgar tersebut dapat diambil kesimpulan di antaranya:

  • Realitas pura Langgar di puri Bunutin menunjukkan bahwa keberadaan umat Muslim di Bangli sudah ada sejak jaman lampau yaitu sekitar tahun 1500, dan mengalami puncaknya di tahun 1970 - 1980.
  • Keberadaan pura Langgar menunjukkan adanya akulturasi kuno antara budaya Bali, Hindu dan agama Islam.

Akulturasi tersebut hingga saat ini masih dipegang kukuh oleh orang Hindu Bangli. Seperti terlihat dalam ritual upacara Galungan di pura Langgar, masyarakat menghaturkan sesajen khusus berisi hewan babi di pura Dalem. Sajen babi dilarang dibawa ke Bale Agung, Kaler, dan Pajenengan (nama tempat di dalam area pura). Banten atau sesajen tersebut diberi nama Sajen Selam, hanya ada di Bangli. Sajen Selam adalah penyebutan Islam oleh masyarakat Hindu Bali. Disebut Sajen Selam karena terdapat makanan yang tidak diharamkan orang Islam.

Hingga saat ini, masyarakat Hindu Bunutin terus merawat pura Langgar dan mengikuti adat leluhur terdahulu, seperti pada hari-hari tertentu dibuat sajen dari hewan itik atau hewan babi namun hanya dibolehkan dihaturkan di luar kawasan pura Langgar. Tempat utama atau tertinggi di pura ini disebut Utamaning Mandala, merupakan tempat paling suci oleh umat Hindu Bunutin.

Nah Ladies, setelah meninggalkan area pura, Anda juga bisa menikmati panorama indah khas khas Kintamani. Dari lokasi ketinggian Kintamani, pandangan Anda akan dihibur oleh alam yang sungguh elok menawan hati. Dan senja pun membayang disertai angin berhembus pelan mengantar laju mobil menembus gerimis timis yang mengantar perjalanan anda kembali ke kota Denpasar.

(vem/riz)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading